Dear, Dearest
Prolog
Aku lupa kapan aku mulai menyukai mu
Aku
lupa kapan kau berahasil menaklukkan ku
Mungkin
Aku ……
Kemarin
kah? Seminggu lalu? Atau tanpa aku sadari
Mungkin…….
Aku
telah menyukaimu sejak awal kita bertemu.
TANIA
RAHAYU itulah nama lengkapku, aku lebih senang dipanggil dengan sebutan tatan
karena itu memang nama panggilanku.
Sedih
dan bahagianya sebuah akhir,kau boleh memilih mana yang kau mau.
Sebuah
lembaran kertas putih kini tah ternodai dengan coretan tangan bertinta merah.
Tangan mungil untuk ukrn dewasa itu dengan lihai nya melipat lembaran kertas
itu menjadi bentuk persegi panjang . Dengan lembut ia memasukkan lipatan kertas
itu kedalam sebuah amplop berwarna merah muda serta sticker merah berbentuk
hati sebagai perekatnya .
Gadis
itu menghirup aroma amplop degan dalam meresapi setiap kata yang tertulis di
dalam amplop tersebut . Ia memejamkan matanya tak lupa senyum manis yang tercetak jelas diwajahnya.
“Nak
cepat keluar ada temanmu” suara lemah penuh kelembutan dari balik pintu bercat
cokelat itu menyapanya.
“iya
tunggu bentar” dengan cepat gadis itu meraih box kecil berwarna hijau dan
memasukkan amplop berisikan surat tesebut kedalam box dan meletakkan nya di atas
lemari.
chapter 1
Cinta
Pandangan Pertama
“Tidak
percaya cinta pandangan pertama bukan berarti tidak bisa menyukai apa yang ia pandang
untuk pertama kalinya”
Suara
nyaring dari jam weker berhasil mengusik tidur nyenyak gadis berparas menawan
ini. Dengan malas Tania menekan tombol yang berada diatas kepala jam weker Doramonya
yang tengah berdiri kokohnya diatas nakas.
Setelah
mematikan deringan yang nyaringitu, Tania mulai kembali ke kebiasaan nya untuk
tidur lagi.
❤❤❤❤❤❤❤
Dengan
langkah yang besar serta kecepatan tinggi,kaki itu melaju dengan kencangnya menyusuri trotoar
ditengah padatnya lalu lintas. Bukannya ia tak mau membaw kendaraaan,namun
justru ia akan semakin terlambat dengan kemacetan ini.
Hanya
lewat tiga menit ia berhasil menerobos pagar sekolah yang telah hampir
tertutup. Pak Arman- satpam sekolah ini. Ia beum sempat mengomeli Tania yang
menerobos masuk tanpa pamit.
Tania
sedikit mengintip dari balik kaca jendela kelas, suara bising khas kelas dengan
canda tawa dan celotehan menjadi isyarat bahwa Bu Lea belum memasuki kelas dan
memulai pelajarannya.
Dengan
bernafas lega Tania mulai memasuki kelasnya.
“Tumben
banget Buk Lea belum masuk biasanya kan 5 menit sebelum bel berbunyi dia udah stay di singgahsana nya”canda Tania
kepada teman sebangkunya Miranda.
Miranda
gadis berkulit sawo matang itu menanggapinya dengan anggukan kecil.
“Guru
lagi adai rapat’ balas Miranda tak lupa
senyum yang merekah dari keduanya.
“ayo
ke kantin”ajak Tania penuh semangat namun langsung ditolak oleh Miranda.
“Gue
sebagai ketua kelas yang baik harus menjadi panutan bagi anggotanya. Dan juga gue
dikasih amanah sama Bu Lea buat catet nama orang yang keluar kecuali kalo ke toilet” Miranda memang
memiliki karakter perempuan yang terlihat tomboy dan juga tegas, oleh karena
itu dia dipilih sebagai ketua kelas selama 2 tahun berturut-turut.
****************
Bel
tanda istirahat telah berbunyi dengan semangat 45 tania bersorak gembira. Ia mulai
merapikan alat tulisnya yang berserakan diatas meja.
“Mir,ayolah
ke kantin” ajak Tania ,namun Miranda kembali menolak.
“Gue
ke kantinnya pas istirahat kedua aja. Gue mau keperpustakaan ”dengan tatapan
bosan
“elah
beda yak tempatnya cewek pinter kek lo sama cewek abl-abal kayak gue”
“
itu lo nyadar kalo lo emang abal-abalan” ledek Miranda diiringi kekehan kecil
dari mulutnya.
“gue
ikut lo aja. Gue ga punya temen jajan. Siapa tau disana gue ketemu jodoh” canda
Tania
Mereka
berdua mulai berjalan kearah perpustakaan yang berada di gedung
sebelah.menyusuri koridor-koridor sekolah diiringi obrolan manis.
“bacain
apa Mir?” Tanya Tania.
Tania
menatap Miranda yang berada dihadapannya dengan tatapan bosan. Ia menyangga kepalanya dengan kedua tangan yang bertumpu
pada meja.
“Novel lah,gue juga manusia yang terkadang juga
bosan terhadap materi-materi pelajaran apalagi materi kehidupan” Tania memtar
kedua bola matanya kemudian tanpa sengaja matanya menangkap sebuah drama kisah
cinta siaran langsung yang berakhir tragis.
Tania
menarik novel bersampul putih yang menutupi wajah Miranda dengan sebelah
tangannya.
“Apasih
?”ketenangan Miranda dalam mengkhayati cerita fiksi tersebut terganggu oleh
sebuah pertanyaan yang terlintas dari mulut gadis dihadapannya tanpa rasa
bersalah.
“mir,
itu mereka ngapain?” Miranda mengikuti arah pandang jari telunjuk Tania yang
mengarah pada balik punggunggnya.
“paligangan
juga tuh cewe ditolak sama raga,udah biasa kali liat pemandangan kaya gitu
diperpustakaan” Tania rasanya ingin menertawakan jawaban yang bagaikan anekdot
itu .
“wah
keren tuh cowok” ungkap Tania ,mata terus menatap kearah dua sejoli itu.
“mana
sih rasa gengsi cewek itu? sampe mau aja nembak cowo” Miranada mengedikkan
bahunya,mengabaikan pertanyaan Tania .
Sebuah
ide terlintas di kepala Tania ,ia mengambil sebuah kertas sticky note yang biasa
digunakan Miranda untuk mencatat bab dan halaman dalam novel ataupun catatan pr yang akan ia temple di handphone nya.
“mir
minta sticky note dong ”Miranda yang masih terfokus pada dunia fiksinya tanpa
menjawab langsung memberikan tumpukan sticky
note itu yang selalu setia berada
disaku baju sekolahnya.
Tumpukan
sticky note dengan warna yang beragam tersaji dihadapan Tania.
Dear,
Dearest
Hay
ganteng
Iya
kamu….asik banget ya jadi ganteng .
Ini
pertama lainya aku lihat kamu.
Apa
ini bisa dibilang cinta pandangan pertama?
Karena
aku menyukai saat pertama kali aku
memandang mu.
-
si gagak (sang penulis)
Kertas
kecil berwarna merah muda dan berbentuk persegi itu ia cabut dari tempat
asalnya. Tania sedikit menyunggingkan senyum kala membaca ulang sebuah pesan
kecil yang ia buat barusan. Ia sedikit melirik kearah murid laki-laki tadi yang
telah pergi dari tempatnya. Meninggalkan sebuah buku novel dengan batas
penggaris tergeletak diatas meja bundar di dekat jendela kaca yang selalu
tertutup.
“mir,
emang cowo tadi selalu datang kesini dan duduk ditempat yang sama ya?” Tanya Tania
dan dibalas dengan sebuah anggukan kecil dari kepala Miranda.
Gadis
berseragam putih abu-abu itu kni berjalan dengan perlahan kearah meja yang
sering digunakan oleh ,urid laki-laki tadi,jika dilihat tempat yang biasa ia
gunakan memanglah sangat nyaman dan menyenangkan.
Perpustakaan
khusus siswa ini berada dilantai yang paling atas,lantai tiga. Dan ditmpat ini
dari balik jendela kita bisa melihat langsung pemandangan sekitar sekolah. Mulai
dari pohon-pohon hijau,serta bangunan gedung-gedung tinggi yang berbaris dan
berjajar dengan sangat rapi.
Tania
segera membuka novel yang tertutup itu ke halaman yang sudah diberi tanda batas penggaris.lalu menempelkan sticky note itu kehalaman tersebut dan menutup buku itu kembali seperti sedia kala.
“tatan,ngapain?
Balik ke kelas yuk. Bentar lagi masuk?” dengan tersenyum lebar Tania menangguk
dan berlari kecil menyusul Miranda yang sudah sedikit lebih jauh darinya.
Chapter 2
cinderella
atau snow white
“terkadang orang yang kuat itu
sedang menyembunyikan sisinya yang sedang lemah”
Suara
ketukan dari sepatu skate yang berbenturan dengan lantai keramik putih yang
sangat bersahutan menggema dilorong rumh sakit yang sepi.
Langkah
besarnya seiring dengan matanya yang menyusuri setiap lorong rumah sakit
membaca setiap papan nama yang menempel diatas pintu ruangan.
Flamboyan
1
Langkahnya
terhenti didepan pintu kaca dengan tirai hijau sebagai penutupnya. Tangannya terulur
untuk mendorong pintu yang tak terkunci itu.
Seorang
anak gadis mudah dengan wajah pucatnya sedang bersandar pada kepala ranjang ber-sprai
putih dengan kaki yang berselimut hijau serta selang infus dan selang oksigen
sebagai penunjang hidupnya.
Gadis
lemah ituterlihat sedang sibuk membaca sebuah buku novel karya Tere-liye
“ALICE!”
panggilnya lalu berlari kecil sambil memeluk erat bucket mawar merah yang ia
beli ditoko bunga dekat rumah sakit.
Alice,
gadis itu segera mengalihkan pandangannya pada seorang gadis berseragam putih
abu-abu . Dapat dipastikan jika memanggilnya adalah seorang siswi yang masih duduk
di bangku menengah atas . Alice Meletakkan novel yang ia baca sedari tadi
keatas nakas yang berada di samping ranjangnya.
Gadis
itu mengulurkan sebucket mawar tersebut pada alice tak lupa senyum yang merekah
di keduanya.
Dengan
senang hati Alice menerimanya lalu menghirup dalam aroma khas mawar sambil
menikmati ke ikhlasan yang memberinya.
“apa
kabar?” Tanyanya
“aku
baik tatan, terima kasih untuk bunganya” Tania tersenyum simpul mendengar jawaban Alice. Alice ,gadis itu
berbohong, ia tak baik-baik saja hanya saja ia adalah gadis yang kuat dan
pantang menyerah.
“lo
kuat banget ya” gumam Tania ,takjub pada alice
“
Karena kekuatan datangnya dari orang yang kita sayangi” alice menggenggam
sebentar tangan Tania.
“terkadang
orang yang kuat itu sedang menyembunyikan sisinya yang lemah” lanjt alice
“tatan,
kebetulan kau ada disini. Aku ingin menitipkan sesuatu padamu” ujarnya dengan
suara yang sedikit serak dan terdengar
lemah.
Tania
menatap sebuah kotak kecil berwarna hijau yang diberikan oleh alice dengan
seksama.
“apa
ini?’ Tanya Tania dengan bingung.
“ini
hadiah” balasnya
“buat
gue?” tanyanya dan langsung dibalas oleh kekehan kecil dari alice.
“Bukan,itu
buat my dear” Tania semakin dibuat
bingung oleh jawaban alice.
“Tolong
titip ini sebentar ,dan jangan dibuka “ Tania menggangguk paham lalu box kecil
itu ia masukkan kedalam tas gendong nya.
“kau
bolos lagi?” Tania tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak
gatal. Ia tak pandai berbohong dalam hal apapun.
“Tolong
jangan sampai abangmu tau tentang kado ini” sekali lagi, Tania mengangguk
setuju.
_________
Alice
Bellia ,ia seorang gadis yang kuat dan cantik. Ketika smp dia dijuluki Cinderella
namun sekarang ketika ia sakit ia dijuluki snow white sang putri tidur. Semakin
hari tubuhnya semakin lemah, dan ia lebih sering tertidur
_________
FLASHBACK
Aku
tersenyum senang ketika tangan ini ikut menyalurkan ide dari kepalaku. Tulisan tangan
yang layaknya ceker ayam tak mematahkan semangatku untuk menulis.teman sebayaku
alice , ia juga ikut menulis disisiku saling berbagi masukkan dan mencari
imajinasi . Bukan cerita remaja yang sedang kasmaran yang kami tulis ,tapi menciptakan
sebuah alur dongeng pengantar tidur yang bahagia ,penyihir yang baik hati serta
ibu tiri yang penyayang.
Kami
masih anak kecil kelas akhir dengan seragam putih merahnya,dan alice ia teman
satu angkatanku ,satu sekolahku,teman sekelasku dan juga teman sebangkuku.
Selain
menlis kami juga sering bermain dan menari-nari .saudara laki-laki ku yang
umurnya hanya berjarak 3 tahun dariku,mengenggam erat jari jemari gadis
berparas rupawan itu, Alice. Yang sempat ku buat iri,kadang aku bertanya pada
diriku sendiri. Siapakah adiknya yang sebenarnya?
Aslan
sangat baik kepada alice bahkan dia menyukainya hingga dia memanggil alice
dengan sebutan putrid tengah malam atau Cinderella.
Waktu
berjalan 2 tahun kini aku dan alice memakai seragam putih biru tapi berbeda
dengan abangku, asalan memakai baju putih abu-abu ,satu tahun lagi aku akan
menjadi siswi menengah atas sedangkan aslant akan melanjutkan ke jenjang yang
lebih tinggi.
Aku
mulai merasa kehilangan alice saat masa SMP ku karena sakitnya yang tiba-tiba. Ia
jatuh pingsan dan dibawa ke uks sampai alice tak sadar-sadar akhirnya alice
dibawa ke rumah sakit, aku tak tau sakit yang di derita alice hingga kini ia
sangat pucat tergeletak diatas kasur rumah sakit.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Jam
menunjuk pukul 5 sore,langit jingga keemasan menjadi latar suasana karena
matahari sudah hampir lelah dan ingin beristirahat.
Setelah
keluar dari rumah sakit, Tania berniat untuk pergi ke toko yang menjual
peralatan alat tulis.
Cukup
berjalan kaki Karena jarak antara rumah sakit dan toko tidak terlalu jauh.
“ko,
beli sticky note warna hitam sama pulpen tinta putih yak ko, masing-masing satu
aja . alas an Tania membeli sticky note adalah murid laki-laki
diperpustakaan kemarindan ia hanya ingin mengetahui bisakah sikap dinginnya
luluh akan surat kecil darinya? Dan entah mengapa ia selalu terbayang akan
sosok lelaki itu seolah-olah sedang duduk bersandar sambil membaca buku novel. Tania
ingin menulis surat kedua untuk laki-laki itu bahkan untuk seterusnya sampai ia
menyerah untuk meluluhkan hatinya. Bukankah ini namanya terlalu mudah untuk
mencintai? Dan terlalu awal untuk merasakan cinta?
Tania
menepis pikiran itu jauh-jauh sebelum ia berkhayal terlalu tinggi.
Setelah
pria itu menyebutkan nominal harga,Tania dengan segera memberikan beberapa uang .
Tania
berdiri dihalte bus trans sambil
memantau pergerakan jarum jam yang menempel di pergelangan tangannya,bus trans akhirnya tiba tepat dihadapan Tania.
Kakinya
mulai melangkahi jarak anatara halte dan
bus yang hanya sejengkal tangan.
Ia
memilih duduk ditepi jendela yang berada di bangku paling belakang.
Sebuah
punngung yang sangat ia kenal dari balik kaca jendela sedang berdiri disebuah
toko bunga tempat ia membeli bunga tadi.
Tania
segera menghadap kearah depan, dan memunggungi orang tersebut. Tania sangat
berterima kasih karena kursi ini saling berhadapan.
Chapter 3
Second
sight is fate
( pandangan kedua adalah takdir )
“jika pandangan pertama disebut
cinta maka aku boleh menyebut pandangan kedua dengan sebutan takdir. Aku percaya
takdir karena, takdir mua’llaq yang masih bisa diusahakan serta memiliki
harapan dan takdir mubram yang memang sudah ketentuan bahkan memang sudah
semestinya memiliki kepasrahan”
Lagi-lagi
sebuah bunyi deringan yang tertangkap oleh indra pendengarannya berhasil
menyedot Tania kembali ke dunia nyata. Seolah menjadi portal pembatas antara
kembang tidur dan kenyataan’
Tania
dengan malas menekan kepala weker doraemonnya yang berdiri dengan kokoh diatas
nakas. Tania segera bangkit dari kasurnya ,dan segera merapikan tempat tiudrnya,
tidak seperti biasanya ia akan kembalike alam bawah sadarnya.
Setelah
siap untuk berangkat sekolah,tinggal mengisi perut untuk memulai hari. Tania
menata sebuah punggung yang sangat ia kenal sedang duduk dimeja makan. Punggung
yang ia lihat kemarin sore dari balik kaca jendela bus di sebuah toko bunga
yang sekarang sedang tertawa ria bersama ibu tercintanya.
“wah
bang aslan sudah pulang?” pertanyaan muncul dari mulut Tania . tatan segera
berlari kecil menuju meja makan ,duduk disamping aslan dan saling berhadapan
dengan bundanya.
Tangannya
tergerak untuk mengambil lauk-lauk hidangan dihadapannya. Aroma masakan khas
rumahan berhasil menggugah selera dan memang masakan bunda paling enak sedunia.
“lan,
kapan pulang?” Tanya Tania tanpa embel-embel abang sambil terus memakan
sarapannya tanpa rasa berdosa.
“
tatan biasakan panggil abang” tegur bunda.
Tania
hanya mengangguk menurut samba terus melakukan aktivitas makannya. Setelah
selesai makan. “Abang anterin tatan sekolah ya” sahut Tania dengan muka memelas
“ogah”
balas aslan
“Aslan,
anterin adik kamu sana gih” Tania dan aslan memanglah kakak beradik yang
bagaikan dua kutub magnet yang saling berlawanan. Namun mereka tidak dapat
membantah apa perkataan bundanya.
“iya
bun” balas aslan
Tak
perlu waktu yang lama untuk terbebas dari padatnya lalu lintas .
Tania
turun dari boncengan oleh aslan tepat didepan gerbang sekolah.selama
diperjalanan,kakak beradik ini akan mengeluarkan jurus kata-kata mereka.
“wah
ada nak aslan”sambut pak satpam sekolah saat aslan membuka kaca helmnya. Tania
mendengus sebal. “ pak,ini yang sekolah adiknya,ya sabumbutnya ke tatanlah.
Tatan hari ini datangnya pagi loh”
“eh,sorry
gue gak punya dik kaya lo.adik lucknut” ucap aslan sedikit ketus
“
abang sate” balas tatan tak mau kalah.
Suara
rebut dan bising menjadi latar suasana pagi menjelang siang ini. Siswa dan
siswi melakukan banyak kegiatan mereka masing-masing.
Karakter
Tania dan Miranda sangat bertolak belakang tapi mereka teman semasa orientasi
hingga saat ini.
“beneran
abang lo datang tan? Pulang sekolah gue main kerumah lo ya tan?”wajah bonar nan
bersinar serta mata yang penuh dengan api semangat terpampang jelas menjadi
mimik wajah Miranda.
“deketin
dia? Yang ada lo malah tambah sakit hati”
“
gapapa sakit hati gue yang penting bisa ngobatin rindu”
“yaudah
ayo ke perpustakaan, sebelum bel masuk” ajak tatan pada Miranda
“wah
tumben,kesambet apaan lo? Sampe ngajak ke perpustakaan” ledek Miranda
“setan
jadi-jadi an” balas Tania tak lupa dengusan kecilnya;
______
Tania
duduk berhadapan langsung dengan pintu masuk dan pintu keluar ruangan fiksi ini.
Sambil
menatap bosan Miranda dengan buku yang sama ia baca kemarin. Ia menopang
kepalanya dengan kedua tangannya sesekali ia mengucek matanya yang telah
memerah menahan kantuk.
Tania
memang ahlinya dalam mengarang dan membuat cerita, akan tetapi rasa malaslah
yang membuatnya enggan untuk membaca rangkaian kata tersebut.
Sebuah
postur tegap yang dilapisi oleh seragam batik dengan celana abu-abu sedang
berjalan santai memasuki perpustakaan khusus siswa ini. Kedua tangannya ia
masukan kedalam saku celananya, pandangan yang lurus ke depan memberikan kesan
dingin.
Tania
tak menyangka jika melihat dari arah depan dengan jelas ia akan terlihat
semakin menarik, pantas jika banyak yang berbondong-bondong untuk menjadi
kekasihnya. Murid yang tidak diketahui namanya itu memang belum bisa dikatakan
sangat sempurna namun ia memiliki caranya tersendiri untuk menarik perhatin
para kaum hawa.
Ia
duduk langsung dan menyandarkan punggungnya pada kursi kayu lalu melipat satu
kakinya. Ia mengambil novel tersebut yang berada dihadapannya. Semakin tangan
itu ingin membuka lembaran yang telah dibatasi oleh penggaris, debaran jantung Tania
semakin menjadi-jadi, rasa kantuk yang sedari tadi kini tergantikan rasa gugup
setengah mati.
Bola
mata cokelat terang milik lelaki itu bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti
alur kalimat dari sebuah kertas kecil yang tertempel di halaman pembatasnya,
tangannya terulur untuk mengambil sticky
note tersebut dari tempatnya. Sedetik kemudian, tangannya menggenggam erat
pesan kecil Tania tersebut sehingga remuk dan menjadi gumpalan kecil.
Tania
hanya bisa menghela nafas, baru surat pertama tak akan bisa meluluhkan hatinya.
Meskipun, Tania tak yakin namun ia akan mencobanya. Tania mengambil tumpukan stiky note berwarna hitam bersama puplen
tinta putih disaku rok abu-abu Tania.
Dear,
My
Dearest
Hay hati
Wah kebetulan tadi kita ketemu
lagi.
Sepertinya pertemuan yang kedua
bisa kita sebut takdir, iya kan? Hehehe
___
Si Gagak ( sang penulis )
Coretan
tangan bertinta putih yang sangat terlihat kontras dengan warna hitam sticky note tersebut. Tania akan
menunggu murid laki-laki yang tak dikenal itu untuk pergi dari sana lalu
menempelkan surat baru dilembaran kertas halaman yang baru.
*********


